Yossabachtiar’s Blog

just simply me

Enaknya jadi PNS Desember 4, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yossabachtiar @ 12:20 pm
Tags: , ,

Alhamdulillah, doa itu yang terus aku ucapkan. Tadi pagi aku buka koran Republika halaman 2 mencari nama-nama yang lolos masuk tes Depkumham, ternyata nama yang dimaksud ada. Adikku lolos, aduuh senengnya, tidak dapat dipungkiri di tengah badai krisis ekonomi global kayak sekarang dimana perusahaan besar sudah meminta izin untuk merumahkan sekitar 21000 karyawannya, PNS merupakan pilihan bagi orang yang mencari pekerjaan. Susah di PHK, ada pensiun, siapa coba yang ga mau.

Apalagi sekarang lagi getol dibahas remunerasi dimana PNS golongan terendah minimal bergaji 2 juta, bayangkan kurang keren apalagi tuh PNS. Aku ngomong disini bukan maksud meninggikan PNS dan menjatuhkan yang swasta, tapi kalo mo jujur umumnya orang ngelamar jadi PNS karena itu kan

Walau ada juga yang cukup idealis, macam temen2ku yang memang pengen jadi peneliti, atau aku dan bosku yang pengen dapet kesempatan melanjutkan sekolah di luar negeri dengan beasiswa (walaupun belum gol juga), yah lumayan kan motivasinya, ga cuman melulu karena hal yang aku sebut di atas.

Temenku malah lucu waktu diwawancarai, dia bilang karena sekarang dia sudah berstatus istri dan punya keluarga, maka pekerjaan jadi PNS merupakan pilihan yang terbaik. Enggak tau kenapa ternyata dia bisa lolos dengan jawaban itu hehehe (asalnya dia sempet ga pede bakal lolos tuh). Ya kondisinya umumnya memang seperti itu, kalo mo ijin ga masuk atau cuti ga terlalu sulit, apalagi kalo punya baby, lingkungan PNS tampak mudah memahami kondisi Ibu yang juga pekerja. Mungkin karena aku pernah kerja di perusahaan swasta jadinya memang sedikit bisa membandingkan.

Tapi jangan dikira jadi PNS itu cuma nyante trus pulang siang seperti yang selalu jadi bahan cibiran orang2. Aku paling sebel deh dengan steorotip itu. Asal tau aja, aku juga kalo pulang malem tuh ga beda ama pekerja swasta, kalo sabtu minggu kadang suka lembur walaupun kadang dibayar atau enggak. Trus kalo kerja juga pontang panting, sampe pusing, nih kerja kok ga abis-abis ya. Pokoknya ga money oriented ” asal ada duit, mau kerja” mungkin ada yang kayak gitu, tapi aku ngeliat banyak PNS yang berdedikasi, duuuh kalo aku ceritain satu persatu apa saja pengorbanan PNS yang loyalitasnya sudah aku liat, ga muat deh nulisnya. makanya aku suka kesel dengan imej buruk itu karena seolah meniadakan fakta bahwa banyak juga PNS yang telah benar2 menjadi abdi negara dalam hidupnya.

PNS Family

Jadi lucu, dengan keterimanya adikku jadi PNS, berarti kita sekeluarga komplit jadi keluarga PNS. Nyokap PNS, Bokap PNS, gw PNS, adikku juga. Padahal dulu aku ga pernah kepikiran jadi PNS, apaan PNS gajinya kecil heheheh, lagian aku sukanya dunia entertainment, musik, siaran…tapi secara di Indonesia kebanyakan orangtua masih ga yakin kalo anaknya kerja di dunia kayak gitu bakal berhasil jadi aku tampak dianggap seperti anak ga sukses waktu jadi penyiar, padahal gajinya lumayan tuh, Cuman gampang abis juga tuh gaji, kata nyokap gajinya ga berkah hehehe. Akhirnya banting setirlah mencoba peruntungan di dunia PNS, taunya masuk, sempet ga pede juga dengan masa depan gw gimana ya, aduuuh tampak gelap. Tapi ternyata dijalanin dengan tekun dengan niat ibadah, ternyata jadi PNS biar kata orang gaji kecil tapi berkah. Aku bisa nabung beli ini beli itu. Jaman Jahiliyah dulu, boro2 nabung yang ada besar pasak daripada tiang, maklum saat itu lingkungan life style tinggi jadi belanja belanji, maen, dan gesek teruuuus kalo shopping.

Apalagi kalo remunerasi jadi diterapkan di kantorku, wah bukan lumayan lagi tuh, makanya sekarang PNS benar2 menjadi pekerjaan yang menjanjikan. Cuman ga tau kapan, tapi pas lagi bantuin bosku bikin RAB, uker alias uang kerja yang jadi ciri khas proyek PNS udah mulai diilangin…, apa itu tanda-tandanya ya, amiiin.

Pokoknya ya, satu point yang aku dapatkan jadi PNS, adalah jangan jadikan uang sebagai motivasi utama untuk bekerja. Uang itu akhirnya datang sendiri asal kita rajin. Memang jadi PNS itu enaknya katanya susah dipecat, jadi mo tuh PNS telat, jarang masuk, males kerja, emang ga bakalan dipecat soalnya prosedur pemecatan PNS sangat ribet, tapi pendapatannya ya segitu-gitu aja sesuai dengan golongannya. Tapi kalo kita rajin apalagi ditambah kreatif, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya, uang itu akhirnya mengalir terus. Kita jadi sering dilibatkan pada proyek/pekerjaan2 khusus yang memang ada dananya. Mungkin uker suatu proyek ga besar tapi kalo proyeknya banyak, take home pay jadi lumayan juga toh. Pokoknya jangan takut soal rizki kalo jadi PNS, yang penting kerjanya bener, rizki bakal turun sendiri dari Alloh, percaya deh! Bukan gede kecil uang nya yang jadi ukuran tapi cukup tidaknya memenuhi kebutuhan kita. Selama gaya hidup kita normal, kita bekerja dengan baik, menjadi PNS itu sangat menyenangkan kok

 

FAKTA TENTANG TORCH November 28, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yossabachtiar @ 3:19 am
Tags: , , , , , , , ,

Beberapa hari kemarin aku tes TORCH, aku pengen tau apa penyebab keguguranku. Soalnya ortu sempet nyalahin aku yang terbang naek pesawat sebagai penyebabnya, beberapa temenku yang laen malah lebih parah, ilang janin gara-gara ke Bali, soalnya disitu kan banyak leaknya, duuuh musyriik deh.

Nah, aku dapet informasi ini dari postingannya kakak ipar, (thx ya… mba Lin…) untuk menambah referensiku soal TORCH, tapi aku edit dikit biar ringkas

Virus Rubella
Rubella yang sering disebut orang dengan Campak Jerman merupakan jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Rubella dapat menyerang siapa saja tidak pandang bulu. Bisa menyerang orang tua, remaja, anak – anak, bahkan bayi sekalipun. Sebenarnya Rubella ditemukan oleh Sir Norman Greg dari Eropa sejak tahun 1941, namun baru dapat disosialisasikan pada tahun 1962. Walaupun penderita Rubella tidak menampakkan gejala klinis 14-21 hari, namun virus ini sebetulnya telah berada di beberapa tempat misalnya tenggorokan, bulu hidung, air seni, dan kotoran manusia.
Penyakit ini biasanya menyerang pada bagian saluran pernafasan atau di dalam tenggorokan. Cara penularannya bisa lewat udara, ludah, kontak kulit, dan dapat juga lewat kotoran manusia. Virus ini sangat berbahaya bila menyerang ibu hamil karena bisa mengakibatkan keguguran. Kalau tidak keguguran maka anak yang dilahirkan bisa terkena penyakit katarak, tuli, hidrosefalus, microsefalus, hypoplasia (gangguan pertumbuhan organ tubuh seperti jantung, para – paru, dan limpa). Bisa juga menyebabkan berat bayi tidak normal, keterbelakangan mental, hepatitis, radang selaput otak, radang iris mata dan beberapa jenis penyakit lainnya.
Serangan Rubella pada anak – anak biasanya menyebabkan panas badan dan sakit di persendian tubuh. Kemudian tampak bercak – bercak merah yang berdiameter sekitar 2-3 mm. Juga terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening di belakang telinga atau di bawah leher. Mula – mula bercak – bercak merah menyerang wajah, kemudian menjalar ke seluruh tubuh secara merata. Gejala pada ibu sama dengan gejala yang ada pada anak. Bercak – bercak ini seperti campak, makanya di Jerman Rubella sering disebut German Measless (Campak Jerman).
Pengaruhnya secara langsung kepada janin adalah keguguran spontan yang bisa mencapai 50%. Sel yang belum mtang lebih mudah terinfeksi virus Rubella. Hal ini disebabkan antigen yang dibuat janin baru berfungsi setelah kelahirannya. Ini berarti antigen harus menunggu sampai jangka waktu tertentu. Karena itu, virus mudah terinfeksi pada kehamilan 3 bulan pertama. Akibatnya yang nampak, kecenderungan resiko pada bayi keguguran mencapai angka 50%. Biasanya selain menyebabkan abortus spontan, juga menyebabkan pertumbuhan tengkorak kecil dan penyakit lainnya. Makin tua kehamilan (terutama setelah 20 minggu) kelainan pada bayinya lebih sedikit.
Pengobatan virus Rubella terbilang sulit. Sampai sekarang medis belum menemukan obatnya. Biasanya yang dapat dicapai adalah menghilangkan keluhan pasien seperti demam atau rasa nyeri. Dibandingkan dengan pemeriksaan bakteri, pemeriksaan virus Rubella lebih sulit. Cara yang agak mudah mendeteksi dengan teknik Fluorescent. Pemeriksaan terhadap penderita infeksi Rubella dilakukan dengan cara tes darah serologi antigen Rubella.
Ada beberapa dokter yang menangani ibu hamil terinfeksi Rubella biasanya diberi dua pilihan meneruskan kehamilan dengan risiko tertentu atau terminasi (aborsi). Begitu sulitnya mendeteksi dan mengobati virus Rubella, kadang dokter medis menganjurkan seorang wanita yang merencanakan kehamilan untuk memeriksakan darah. Bagi wanita yang terkena virus Rubella biasanya lebih kebal terhadap virus ini. Setelah vaksin diberikan dianjurkan untuk tidak hamil selama 3 bulan sejak menerima vaksin.

Infeksi virus Rubella merupakan penyakit infeksi ringan pada anak dan dewasa muda, tetapi memberi nuansa istimewa seandainya infeksinya mengenai ibu hamil, di mana virus dapat menembus barier plasenta dan langsung patogenik terhadap janin yang dikandungnya. Dampak kelainan kongenital setelah kelahiran terutama dapat berupa katarak mata, kelainan jantung, tuli, diabetes, dan paru – paru.
Biasanya anak lahir dengan berat badan rendah, trombositopenia, purpura, mikrofthalmi, glaukoma, kornea yang keruh, rettinopati pigmentosa, tuli dan gambaran radiolusen pada tulang. Virus dapat diekspresikan melalui urin maupun pernafasan sampai selama 2 tahun, tetapi sebagian menetap dalam tubuh bayi yang membentuk respons imunitas kuat. Dilaporkan pula bahwa virus Rubella persisten pada bayi dan anak, dapat menyebabkan kelainan endokrin, misalnya terjadinya hipo.
Rubella dapat ditularkan melalui kontak perpafasan dan memiliki masa inkubasi antara 2-3 minggu. Penderita dapat menularkan penyakit ini selama seminggu sebelum dan sesudah timbulnya rash (bercak – bercak merah) pada kulit. Rash pada Rubella berwarna merah jambu, menghilang dalam waktu 2-3 hari dan tidak selalu muncul untuk semua kasus infeksi.

Virus Toxoplasma
Dilihat dari sejarahnya, Toxo adalah parasit protozoa bersel tunggal penyebab Toxoplasmosis. Virus ini pertama kali ditemukan dalam hewan pengerat di Afrika Utara yang disebut gondii oleh Charles Nicolle dan Lonis Manceaux di Laboartorium Institut Pasteur di Tunisia pada tahun 1908. Siklus hidup selengkapnya baru ditemukan pada tahun 1970 yakni ditemukannya siklus seksual pada kucing sebagai hospes tetapnya, sedangkan pada hospes perantara adalah berbagai jenis burung dan mamalia termasuk manusia.
Toxoplasma gondii (sebutan di dunia medis) tersebar luas di alam, baik pada manusia maupun hewan, dan merupakan salah satu penyebab penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada manusia di seluruh permukaan bumi.

Toxoplasma gondii dapat dibedakan dalam 3 bentuk :
1. Oosit, yang merupakan hasil perkawinan mikrogamat dan mikrogamet yang terjadi dalam usus kucing. Oosit diekskresi bersama tinja dan berada dalam tanah, tumbuhan atau sayuran.
2. Trofozoit (takhizoit), timbul kalau Oosit termakan binatang atau manusia kemudian pecah menjadi bentuk trofozoit yng sangat infektif. Trofozoit memperbanyak diri dengan cara aseksual (pembelahan) mengakibatkan parasitemia dan menyerang berbagai organ.
3. Kista. Berada dalam organ yang dapat bertahan hidup sepanjang kehidupan induk semangnya.

Virus Cyto Megalo Virus (CMV)
Cyto Megalo Virus atau lebih sering disebut dengan CMV adalah infeksi oportunistik yang berhubungan dengan penyakit HIV. Virus ini dibawa oleh sekitar 50% populasi dan 90% penderita dengan HIV. Sistem kekebalan yang sehat akan menyebabkan virus ini selalu dalam kendali kita. Ketika HIV memperlemah kekebalan kita, CMV dapat menyerang beberapa bagian tubuh.
Virus Cyto Megalo Virus (CMV) termasuk keluarga virus Herpes. Sekitar 50% sampai 80% orang dewasa memiliki antibodi anti CMV. Infeksi primer virus ini terjadi pada usia bayi, anak – anak, dan remaja yang sedang dalam kegiatan seksual aktif. Penderita infeksi primer tidak menunjukkan gejala yang khusus, tetapi virus terus hidup dengan status “laten” dalam tubuh penderita selama bertahun – tahun.
Virus CMV akan aktif apabila inang mengalami penurunan kondisi fisik, seperti wanita yang sedang hamil atau orang yang mengalami pencangkokan organ tubuh. Jika infeksi pada wanita hamil terjadi pada awal kehamilannya maka kelainan yang ditimbulkan semakin besar.
Hanya sekitar 5 hingga 10 bayi yang terinfeksi CMV selama masa kehamilan menunjukkan gejala kelainan sewaktu dilahirkan. Gejala klinis yang umum dijumpai adalah berat badan rendah, hepatomegali, splenomegali, kulit kuning, radang paru – paru, dan kerusakan sel pada jaringan syaraf pusat. Gejala non syaraf akan muncul pada beberapa minggu pertama, cacat pada jaringan syaraf yang akan berlanjut menjadi kemunduran mental, tuli, rabun, dan raikrosefali.
CMV lebih sering menyerang retinitas (fleksi pada kornea), yang dapat dengan cepat menyebabkan kebutaan. Bila tidak diobati CMV dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menginfeksi ke beberapa organ lain sekaligus. Risiko infeksi CMV paling tinggi terjadi bila cell CD4 dibawah 100.
Gejala pertama CMV retinitas adalah problem penglihatan. Seperti bayangan hitam yang bergerak (scotoma) dan tampak seperti bintik – bintik hitam. Kasus lainnya misalnya pandangan sepertinya melihat kabut putih tebal yang oleh kalangan medis sering disebut dengan istilah Floates dan mengindikasikan suatu peradangan di retina. Beberapa dokter (khususnya dokter ahli mata) sering merekomendasikan pemeriksaan mata untuk mencari retinitis CMV. Pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter spesialis mata, yang akan melakukan dialtasi pupil mata dan mengecek retina. Bila jumlah cell CD4 di bawah 200 dan mengalami problem penglihatan, maka harus melaporkan kepada dokter secepatnya.
Cara penanganannya biasanya mendapat infus tiap hari, bisa dengan Ganciclovir atau Foscarnit. Obat ini dapat mengendalikan CMV, tapi tidak dapat menyembuhkan secara total. Karena masuknya obat tersebut melalui infus tiap hari maka penderita biasanya mendapatkan tempat masuk pengobatan yang diletakkan pada dinding dada atau lengan. Tempat masuk infus ini sering disebut hichman atau grochung catheters yang ahrus dijaga bersih untuk mencegah infeksi.
Seorang yang terkena CMV ini biasanya diberi beberapa jenis obat yang berbentuk tablet dari ganciclovir untuk prevensi/profilaksi CMV, tetapi banyak dokter tidak menggunakannya. Tidak digunakannya obat seperti ini karena beranggapan tidak ingin menambah 12 kapsul per hari untuk pasiennya. Di samping itu, pengobatan melalui jenis ini belum menjamin ada manfaat bagi pasiennya. Ada beberapa dokter jstru lebih memilih monitoring pada bagian mata, di mana biasanya CMV muncul/terlihat pertama kali.
Yang perlu diperhatikan dalam memilih terapi CMV adalah:
a.Seberapa efektif pengobatan tersebut?
b.Bagaimana pengobatan itu dilakukan (lewat mulut, intravena disuntikkan atau diimplantasikan pada mata).
c.Apakah terapi tersebut lokal (mengenai hanya bagian mata saja) atau sistemik (mengenai seluruh bagian tubuh). Retinitis CMV dapat berkembang cepat dan menyebabkan kebutaan, untuk alasan ini maka perlu terapi segera secara agresif saat pertama kali terlihat. Injeksi yang lebih baru atau implan langsung pada mata, memperlihatkan hasil yang terbaik untuk retinitis, tetapi CMV dapat muncul pada tempat lain. Untuk mengendalikan CMV di bagian lain tubuh, kita membutuhkan terapi sistemik (seluruh tubuh).
d. Apa ada efek sampingnya atau tidak? yang harus diperhatikan adalah semua obat CMV intravena dapat merusak sumsum tulang atau ginjal, yang memerlukan banyak penobatan tambahan. Foscarnit memerlukan pengobatan jangka lama, pelan – pelan dan infus tiap hari. Untuk jenis Ganciclovir juga memerlukan infus tiap hari.
Penderita CMV harus mendapat obat secara tepat. Tes terbaru dengan pembebanan virus CMV mungkin akan memperjelas hal ini. T-cell di bawah 200, minta dokter untuk melakukan prevensi dan pemeriksaan mata secara teratur. Bila mengalami problem penglihatan apapun, lebih baik secepatnya menghubungi dokter, demi menjaga hal – hal yang tidak diinginkan.
Kemudian, yang perlu digarisbawahi adalah hingga saat ini belum ada pengobatan medis yang dapat mencegah serta mengobati secara cepat dan tepat penyakit jenis ini. Ada pengobatan secara infus tiap hari dengan catheter yang ditanamkan, tapi hasilnya tidak efektif. Bahkan hingga saat ini pun belum ditemukan jenis pil yang dianggap bisa menyembuhkan penyakit CMV dengan hasil yang memuaskan.

Virus Herpes Simplex Virus (HSV)
Pada dasarnya virus Herpes juga disebut Herpes Simplex Virus dan sering disingka dengan HSV. Virus ini dibedakan menajdi dua yaitu HSV1 dan HSV2. Penyebabnya 84% kasus penyakit kelamin. Perbedaan antar HSV1 dan HSV2 adalah : bagian yang disukai HSV1 yakni pada kulit dan selaput lendir mukosa di mata atau di mulut, hidung, dan telinga. Sedangkan HSV2 bagian yang disukai yakni pada kulit dan selaput lendir pada alat kelamin dan perianal.
Bentuk pada kulit HSV1 membentuk bercak verikel – verikel kecil, sedangkan HSV2 membentuk verikel – verikel besar, tebal, dan terpusat. Secara serologi HSV1 terdapat antibodi anti HSV1 dan HSV2 terdapat antibodi anti HSV2.
Khusus untuk wanita hamil yang terinfeksi HSV2 harus ditangani secara serius, karena virus ini dapat menembus plasenta dan menimbulkan kerusakan neonatal, dampak – dampak kongenital dan kematian janin.
Selain itu, resiko yang dihadapi penderita adalah kematian, tetapi hal ini jarang terjadi. Selama belum dilakukan pengobatan yang efektif, perkembangan penyakit Herpes sukar diramalkan. Jika terinfeksi dan segera diobati maka kemungkinan resiko dapat dihindarkan sendini mungkin, sedangkan infeksi rekurens hanya dapat dibatasi frekuensi kambuhnya.
Gejala klinis yang dapat ditimbulkan infeksi HSV :
1. Lesu 85%
2. Gangguan Pernafasan 60 %
3. Bisul Berair 60 %
4. Suhu panas atau dingin 50 %
5. Pendarahan 50 %
6. Hepato megali 50 %
7. Kelainan jaringan syaraf pusat 40 %
8. Kulit kuning 30 %
9. Kulit biru 20 %
10. Radang selaput lendir mata 10 %
11. Korioretinis 10 %
12. Kematian 70 %

Kemudian, ada jenis penyakit lain yang termasuk dalam kelompok Virus Others (others virus). Kelompok penyakit ini digolongkan ke dalam penyakit TORCH karena menyebabkan penyakit dengan gejala yang mirip dengan gejala yang ditimbulkan oleh empat penyebab utama, yakni Toxo, Rubella, CMV dan Herpes. Sebagian besar virus kelompok others merupakan virus yang menyerang jaringan syaraf manusia (neurophatic).
Virus yang tergolong kelompok tersebut antara lain :
• Virus Coxsactie A1 – 17
• Virus Coxsactie B
• Echovirus jenis 2 – 72
• Virus Influenza jenis C
• Adenovirus jenis 1 – 32
• Virus – virus pemicu Rhinovirus, RSV (Respiratory Syncitial Virus), Measles, Varicella, dan lain sebagainya (Suwardji Haksohusodo, 2002)

Cara Penularan TORCH (Toxo,Rubella,CMV,Herpes)
Penularan TORCH pada manusia dapat melalui 2 (dua) cara. Pertama, secara aktif (didapat) dan yang kedua, secara pasif (bawaan).

Penularan secara aktif disebabkan antara lain sebagai berikut :

Pertama, makan daging setengah matang yang berasal dari hewan yang terinfeksi (mengandung sista), misalnya daging sapi, kambing, domba, kerbau, babi, ayam, kelinci dan lainnya. Kemungkinan terbesar penularan TORCH ke manusia adalah melalui jalur ini, yaitu melalui masakan yang setengah matang atau masakan lain yang dagingnya dimasak tidak sempurna, termasuk otak, hati dan lainnya.

Kedua, makan makanan yang tercemar oosista dari feses (kotoran) kucing yang menderita TORCH. Feses kucing yang mengandung oosista akan mencemari tanah (lingkungan) dan dapat menjadi sumber penularan baik pada manusia maupun hewan. Tingginya resiko infeksi TORCH melalui tanah yang tercemar, disebabkan karena oosista bisa bertahan di tanah sampai beberapa bulan .

Ketiga, transfusi darah (trofozoid), transplantasi organ atau cangkok jaringan (trozoid, sista), kecelakaan di laboratorium yang menyebabkan TORCH masuk ke dalam tubuh atau tanpa sengaja masuk melalui luka.

Keempat, hubungan seksual antara pria dan wanita juga bisa menyebabkan menularnya TORCH. Misalnya seorang pria terkena salah satu penyakit TORCH kemudian melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita (padahal sang wanita sebelumnya belum terjangkit) maka ada kemungkinan wanita tersebut nantinya akan terkena penyakit TORCH sebagaimana yang pernah diderita oleh lawan jenisnya.

Kelima, ibu hamil yang kebetulan terkena salah satu penyakit TORCH ketika mengandung maka ada kemungkinan juga anak yang dikandungnya terkena penyakit TORCH melalui plasenta.

Keenam, Air Susu Ibu (ASI) juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit TORCH. Hal ini bisa terjadi seandainya sang ibu yang menyusui kebetulan terjangkit salah satu penyakit TORCH maka ketika menyusui penyakit tersebut bisa menular kepada sang bayi yang sedang disusuinya.

Ketujuh, keringat yang menempel pada baju atau pun yang masih menempel di kulit juga bisa menjadi penyebab menularnya penyakit TORCH. Hal ini bisa terjadi apabila seorang yang kebetulan kulitnya menmpel atau pun lewat baju yang baru saja dipakai si penderita penyakit TORCH.

Kedelapan, faktor lain yang dapat mengakibatkan terjadinya penularan pada manusia, antara lain adalah kebiasaan makan sayuran mentah dan buah – buahan segar yang dicuci kurang bersih, makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, mengkonsumsi makanan dan minuman yang disajikan tanpa ditutup, sehingga kemungkinan terkontaminasi oosista lebih besar.

Kesembilan, air liur juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit TORCH. Cara penularannya juga hampir sama dengan penularan pada hubungan seksual.

Berdasarkan kenyataan di atas, penyakit TORCH ini sifatnya menular. Oleh karena itu dalam satu keluarga biasanya kalau salah satu anggota keluarga terkena penyakit tersebut maka yang lainnya pun juga bisa terkena. Malah ada beberapa kasus dalam satu keluarga seluruh anggota keluarganya mulai dari kakek – nenek, kakak – adik, bapak – ibu, anak – anak semuanya terkena penyakit TORCH.

Untuk mendeteksi sejauh mana penyakit tersebut menyerang anggota keluarga maka biasanya cukup mengambil salah satu anggota keluarga sebagai sample, kemudian diadakan uji laboratorium untuk mengetahui IgG dan IgM nya terjangkit atau tidaknya penyakit TORCH padanya akan ketahuan dengan uji lab tersebut.

Infeksi pada kehamilan tri semester I dapat menyebabkan kelainan bawaan yang erat pada bayi. Kelainan bawaan yang terjadi dapat berupa Hidrosefalus, Microsefalus, pengapuran otak, gangguan syaraf seperti kejang – kejang, gangguan refleks, reterdasi mental dan gangguan penglihatan yang dapat menyebabkan kebutaan dan radang hati.

Walaupun sebenarnya, cacar kongenital (cacar bawaan dari ibu) bukanlah melulu oleh infeksi TORCH saja, tetapi masih ada kemungkinan penyebab lain, yaitu oleh faktor genetic murni karena kelainan khromosomal atau kerusakan gen mutan, dan oleh faktor pengaruh luar murni : bahan kimisa-fisika-radiasi atau obat – obatan.

Diagnosis laboratorik bagi anak yang menyandang kelainan kongenital oleh faktor genetik murni, telah mempunyai cara pemeriksaan yang khusus. Sedangkan yang oleh faktor infeksi TORCH biasanya terdiri atas upaya mengisolasi virus penyebabnya, atau upaya melacak terjadinya Antibody spesifik (IgG – IgM) tehadap masing – masing virus penyebabnya dalam kelompok TORCH. Isolasi virus TORCH dari dalam tubuh anak masih sukar dilaksanakan di Indonesia, mengingat prasarana lab yang masih serba terbatas serta biaya pemeriksaan mahal. Sehingga pengamatan serologi penderita (ayah – Ibu – anak) telah dianggap cukup untuk membantu para Klinisi dalam konfirmasi memperkuat ketentuan diagnosis klinik dan menentukan strategi pengobatannya.

Cara Menghindari TORCH (Toxo,Rubella,CMV,Herpes)

Untuk menghindari sedini mungkin penyakit TORCH yang sangat membahayakan ini, ada beberapa hal sebagai solusi awal yang bisa dilakukan antara lain sebagai berikut :

Pertama, bila mengkonsumsi daging seperti daging ayam, sapi, kambing, kelinci, babi dan lainnya terlebih dahulu dimasak dengan matang hingga suhu mencapai 66 derajat Celcius, agar oosista – oosista yang mungkin terbawa di dalam daging tersebut bisa mati.

Kedua, Kucing peliharaan di rumah hendaknya diberi daging matang untuk mencegah infeksi yang masuk ke dala mtubuh kucing. Tempat makan, minum dan alas tidur harus selalu dicuci / dibersihkan.

Ketiga, hindari kontak dengan hewan – hewan mamalia liar, seperti rodensia liar (tikus, bajing, musang dan lain – lain) serta reptilia kecil seperti cecak, kadal, dan bengkarung yang kemungkinan dapat sebagai hewan perantara TORCH.

Keempat, penanganan kotoran kucing sebaiknya dilakukan melalui sarung tangan yang disposable (dibuang setelah dipakai).

Kelima, bagi wanita yang sedang hamil, terutama yang dinyatakan secara serologis sudah negatif, jangan memelihara atau menangani kucing kecuali dengan sarung tangan.

Keenam, bila sedang memegang daging, bekerja di tempat atau perusahaan daging atau organ yang masih mentah, hindari untuk tidak menyentuh mata, mulut, dan hidung dan peralatan dapur setelah selesai sebaiknya dicuci dengan sabun.

Ketujuh, bagi yang senang berkebun atau bekerja di kebun, sebaiknya menggunakan sarung tangan, mencuci sayuran atau buah sebelum dimakan.

Kedelapan, darah penderita seropositif tidak boleh ditransfusikan pada penderita yang menderita imunosupresif, demikian pula transplantasi organ pada penderita seronegatif harus dari orang dengan seronegatif TORCH.

Kesembilan, pemberantasan terhadap lalat dan kecoa sebagai pembawa oosista perlau dilakukan.

Kesepuluh, penggunaan desinfektan komersial yang ada di toko – toko dapat berguna untuk membasmi oosista.

Kesebelas, memeriksakan hewan peliharaan secara kontinyu ke dokter hewan atau poliklinik hewan agar supaya hewan kesayangan selalu dalam keadaan sehat.

 

Akhirnya Dikuret Juga… November 19, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yossabachtiar @ 6:45 am
Tags: , ,

Aku banyak berharap kalo janinku baek2 aja, soalnya sudah hampir 2 minggu sejak terakhir cek ke dokter, kandunganku kayaknya tidak mengalami masalah apapun. Sampai tanggal 31 Oktober hari Jumat, pas pips kok ada blood gitu tapi sedikit hanya setitik pulpen dengan warna merah yang kental. Aku jadi khawatir sampe ga bisa tidur, kerjaan surfing trus supaya bisa mengira-ngira kondisiku bagaimana, harapannya aku dapat informasi yang menguatkan harapanku kalo aku ga apa-apa dan darah itu cuman hal yang biasa. Tapi dari referensi yang aku baca, tampaknya mengindikasikan memang ada masalah. Memang pada saat kehamilan wajar jika keluar flek, tapi biasanya di awal kehamilan bukan di bulan ketiga kayak aku. Akhirnya aku cek tapi ke dokter yang pertama di RS H ****** dokter itu aku bilang nyebelin, soalnya datang2 dia dah ngomong, ’sendiri aja bu? nanti kalo ada kemungkinan dikuret harus ada yang mendampingi’. Pokonya bete deh ama dokter itu, trus kalo gitu pasti yang baca pada nanya kenapa aku ga datang ke dokter kedua yang pernah bilang janinku itu ada, soalnya dia lagi ga praktek tuh, ya terpaksalah sama dokter itu. Dia nge-USG tapi terburu-buru dan bilang “tuh kan bu emang BO, malah ukurannya rahimnya semakin mengecil”, ih nyebelin… maksudku dia belajar psikologi kek, bagaimana menghadapi orang yang mengalami nasib kayak aku, aku sampe males nanya2, karena udah bete, pengen nangis dan dokternya juga ga banyak omong. Aku penasaran nih doktor kredibilitasnya gimana? aku cek di google, cuma ada 2 testimoni yang menyebutkan dokter itu, pas aku cek dokter ku yang satunya lagi, waaah bejibun (pantes dalam hati, cara ngomong dokter yang kedua jauh lebih enak dan ngayomin soalnya dah senior banget). Emang kata orang kalo cari dokter kandungan, cari yang udah tuaan, karena dah pasti jauh lebih berpengalaman. Walau untuk beberapa kasus pendapat itu ga selamanya benar sih. Dilalahnya dokter pertama ternyata baru lulus tahun 2003 ga jelas lulus jurusan kedokteran aja atau spesialis kandungan.

Keluar ruangan dokter aku pengen nangis, tapi tengsin soalnya aku sendirian dan suami bisa jemput sejam lagi. So untuk menghilangkan rasa pengen nangis aku ngemil heheheh (obat buat para ladies yang stress tapi bikin depresi juga karena timbangan meledak bo). Pas ada suamiku, aku malah kabur, malu deh ketauan cengengnya, aku nangis di tangga tapi aku liat kalo dia tampak berkaca2 sambil nunduk. Kalo inget saat itu rasanya sedih bgt.

Besoknya kita datang ke dokter keduaku, namanya Prof. Dr. Marsis, Sp.OG, prakteknya di RSIA BUNDA dan BUDHI JAYA, entah pada saat itu kita berdua sudah merasa pasrah, ketika di USG lagi (transvagina ga di perut) trus dokternya bilang kalo janin ada tapi ga berkembang karena sampai sekarang belum ada detak jantung dan bentuk rahim mulai tidak teratur, serta flek yang aku alami mengindikasikan bahwa aku keguguran dan harus dikuret, kita berdua ngerasa ‘ya sudahlah dikuret aja, mo gimana lagi’

foto-usg-transv-kedua22 hari kemudian aku dikuret, dan selama menunggu hari, aku mengalami kesakitan luar biasa di perut. Aku dikuret dengan cara dihisap dengan dibius total sebelumnya, jadi sama sekali ga ngerasa sakit. Tapi merinding juga melihat gumpalan darah dalam botol plastik yang dikasih suster sama aku. Ooo that was my baby, how sad.. Prosesnya sendiri hanya 1/2-1 jam dan 2 jam untuk pemulihan dari obat bius, soalnya jam 3 aku dah kuat untuk pulang.

Life must go on….
Jika kemarin aku masih merasa sebagai ibu hamil, setelah itu aku seperti ga punya apa-apa. Secara psikologis, aku merasa meaningless. Efeknya aku jadi agak posesif sama suamiku, kalo dia ngantor aku jadi sedih dan ngerasa kesepian, kalo dia pulang aku ngintil dia terus kemana-mana, pokoknya aku harus yakin bahwa suami itu ada dan berada disamping aku. Aku juga jadi sering nangis, biasanya tiap malem, tapi ga di depan suamiku, biasanya aku nangis kalo dia dah tidur. What a sorrow week.

3 hari pertama sedih berat, selanjutnya sudah mulai terbiasa tapi perutku ini sakiiit bgt, muleeees bgt, efek obat katanya sehingg perut berkontraksi. Lebih sakit dari sakit saat haid rasanya. Kadang2 aku menggerutu ‘ ga hamil tapi sakitnya kayak yang ngelahirin, kasian deh gw’ tapi lantas aku sadar aku harus mensyukuri apapun, termasuk hal yang paling menyedihkan sekalipun, karena itu pasti yang terbaik yang Allah kasih buat kita berdua.

Ya begitulah, kenangan 3 bulan untuk menjadi hamil rasanya seperti dapat keajaiban dan kebahagiaan yang luar biasa. Aku baru merasakannya setelah janin ini pergi.

 

Tips memilih dokter kandungan November 19, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yossabachtiar @ 6:56 am
Tags: ,

Kebetulan aku ngambil dari bayikita, oke juga postingannya

Seideal apa pun, dokter yang dipilih harus bisa membuat Ibu hamil nyaman dan aman berada dalam penanganannya.

“Mbak, kalau mau periksa kandungan, enaknya ke dokter A. Orangnya baik, ramah, dan suka guyon. Tapi harus tahan antre, soalnya pasiennya banyak banget!”

“Mendingan dokter B saja. Dia banyak ngasih penjelasan. Apa yang kita tanya pasti dijawab lengkap dan mudah dimengerti. Wah, pokoknya memuaskan deh!”

“Kalau mau dokter yang asyik, pilih saja dokter C. Dia tergolong dokter senior, jadi sudah pengalaman banget. Selain itu, dia juga lumayan ganteng, lo!”
Begitulah komentar para ibu tentang sosok dokter spesialis kebidanan dan kandungan (obgin) yang pernah memeriksanya. Dari beberapa komentar singkat tersebut, ternyata memang setiap orang memiliki “selera” tersendiri. Walau demikian, masukan dan saran dari teman, kakak, saudara, dan lainnya boleh-boleh saja dijadikan bahan pertimbangan. Namun akhirnya, ibu sendirilah yang harus memutuskan hendak memeriksakan kehamilannya ke dokter yang mana.

Begitu banyak kriteria yang muncul mengenai sosok seorang dokter tentu tak terlepas dari persepsi atau penilaian ibu-ibu hamil yang pernah menjadi pasiennya. Akibatnya, bukan tidak mungkin Anda malah bingung, mau pilih dokter yang mana, ya?

SEJUMLAH KRITERIA
Sebagai pegangan, inilah yang bisa dijadikan pertimbangan kala memilih dokter kandungan dan kebidanan bagi kehamilan dan persalinan Anda:

* Jenis kelamin
Faktor jenis kelamin menjadi salah satu kriteria yang banyak dipilih, apakah dokter kandungan dan kebidanan tersebut perempuan atau pria. Alasan kenapa harus memilih dokter kandungan dan kebidanan berdasarkan jender ini tentu beragam. Contohnya, seorang ibu hamil merasa lebih nyaman jika diperiksa oleh dokter dengan jenis kelamin sama. Yang bersangkutan tidak perlu merasa risih atau sungkan ketika sang dokter melakukan proses pemeriksaan, terutama pemeriksaan dalam, karena sama-sama perempuan. Sebaliknya, ada juga yang lebih memilih diperiksa oleh dokter pria, karena mungkin ia merasa bisa curhat mengungkapkan keluhan-keluhan kehamilan dan merasa terlindungi.

* Penampilan dan pembawaan
Ada juga pasien yang mempertimbangkan penampilan fisik sebagai bahan pertimbangan yang cukup penting. Misalnya, sang dokter berparas tampan atau cantik, bersih, rapi dan wangi. Pasien merasa senang kalau diperiksa oleh dokter dengan sederet kriteria tadi.

Sebaliknya, ada juga ibu hamil yang sama sekali tak mempertimbangkan apakah si dokter ganteng atau cantik. Yang penting baginya, dokter tersebut haruslah ramah, murah senyum, tidak kaku dan melakukan pemeriksaan dengan santai.
Sikap luwes ini umumnya juga dikaitkan dengan kesediaan si dokter memberikan penjelasan memuaskan. Jika ibu merasa nyaman karenanya, tentu
saja pilihan yang dibuat berdasarkan penampilan dan pembawaan dokter menjadi sangat logis.

* Pengalaman praktik
Tak sedikit ibu hamil yang memilih dokter kandungan dan kebidanan berdasarkan pengalaman praktiknya. Dalam hal ini, yang menjadi incaran adalah para dokter senior dan berpraktik di beberapa RS kenamaan. Pilihan semacam ini memang bisa membuat pasien seperti Anda yang sedang hamil tak khawatir menggantungkan nasibnya di tangan dokter yang betul-betul pakar di bidangnya serta sudah banyak makan asam garam alias amat berpengalaman. Akan tetapi tak salah pula jika ada yang lebih senang memeriksakan diri ke dokter “yunior”. Di mata pasiennya, dokter seperti ini dianggap lebih care , pengetahuannya lebih up to date, serta tenaganya masih full, dan keterampilannya sesuai dengan perkembangan dan punya banyak waktu (karena pasiennya belum banyak) saat konsultasi maupun kala harus membantu proses persalinan.

* Banyak-sedikitnya pasien
Jumlah pasien seorang dokter ternyata juga memberi kontribusi bagi banyak orang dalam memutuskan akan memilih dokter kandungan dan kebidanan yang mana. Banyaknya pasien dinilai sebagai poin plus si dokter. Bukankah itu berarti kualitas si dokter sudah diakui banyak orang? Risikonya, ibu harus rela berlama-lama menunggu giliran diperiksa oleh sang dokter “istimewa” ini. Jika tidak mau menunggu di antrean yang panjang, ibu bisa memilih dokter kandungan dan kebidanan yang pasiennya sedikit. Pertimbangannya, antrean yang terbatas sangat memungkinkan masing-masing pasien punya cukup waktu untuk berdialog atau mendapatkan penjelasan yang komprehensif. Kalau pasiennya seabreg, sulit bagi si dokter untuk punya banyak waktu dalam menyampaikan informasi panjang lebar pada semua pasiennya.

* Rekomendasi saudara atau teman
Memilih dokter kandungan dan kebidanan bisa semata-mata berdasarkan rekomendasi dari sanak famili atau teman. Dari merekalah, didapat gambaran kemampuan dan karakter dokter yang dimaksud. Kalau saat datang pertama kali ternyata benar sesuai dengan gambaran ideal, kemungkinan besar inilah pilihan yang cocok. Akan tetapi bila ternyata tak sesuai, boleh saja mencari masukan dari teman-teman atau sumber lain.

MEMBANGUN RASA SALING PERCAYA
Memang sama sekali tak mengherankan bila ibu hamil berbeda pendapat dalam menetapkan sejumlah kriteria atas dokter kandungan dan kebidanan. Yang utama pastilah ibu harus menaruh rasa percaya pada dokter pilihannya. Kepercayaan ini amat menentukan relasi dua arah antara dokter dan pasiennya. Rasa percaya memungkinkan seorang ibu mengutarakan segala keluhan seputar kehamilan yang dirasakannya. Begitu juga semua pertanyaan, hingga tak cuma menggelantung di benaknya. Secara timbal balik, mendapat kepercayaan dari pasiennya membuat si dokter mampu mengatasi segala kekhawatiran, keluhan, maupun gangguan kehamilan yang dialami pasiennya.
Seiring perjalanan waktu, pasien juga akan menilai sendiri bagaimana kepuasan ataupun tingkat pelayanan dokter yang menangani kondisi kehamilannya. Bisa saja baru sekali periksa, Anda langsung merasa cocok dengan dokter itu. Kalaupun tak merasa cocok, hak Anda untuk berganti dokter hingga akhirnya menemukan yang dianggap paling cocok. Prinsipnya sih, semua dokter akan memberi pelayanan maksimal dan terbaik bagi para pasiennya. Sementara soal kepuasan, setiap pasien bisa saja memiliki kriteria penilaian tersendiri.
Dalam sehari umumnya seorang dokter kandungan dan kebidanan memiliki kemampuan yang berbeda dalam memeriksa pasien. Ada yang mampu memeriksa 20 pasien, meski ada juga yang mencapai 40-60 pasien! Namun seberapa banyak sebetulnya tak masalah asalkan dokter yang bersangkutan tetap mampu memberi pelayanan prima bagi setiap pasiennya. Tapi ingat, bagaimanapun juga dokter adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan tenaga dan butuh istirahat. Masalahnya, pasien sendiri yang kadang ngotot ingin ditangani oleh dokter tersebut meskipun harus rela antre berjam-jam lamanya.

TUNJUKKAN PROFESIONALISME
Kalau dipikir-pikir, tak ada kriteria yang jelas dan serbapasti dalam memilih dokter yang pas dan cocok alias ideal. Yang terpenting, pertimbangkan faktor profesionalisme si dokter yang bisa diamati dari hal-hal berikut:

* Terbuka
Dokter yang profesional adalah sosok yang terbuka pada pasiennya. Dengan kata lain, dia mau memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan ibu hamil, entah itu diminta ataupun tidak. Dokter juga mampu memberikan penjelasan dengan baik dan benar. Contohnya tentang kehamilan maupun risiko yang mungkin terjadi pada saat kehamilan yang dialami ibu dan sebagainya. Dengan kata lain tak ada keterangan yang sengaja ditutup-tutupi sehingga pasien tak tahu apa kendala yang dialaminya.

* Bersedia mendengarkan pasien
Selain terbuka memberikan berbagai keterangan, dokter juga mau mendengarkan keluhan dan menanggapi pertanyaan pasiennya. Dengan kata lain, komunikasi yang terjalin tak berlangsung satu arah atau sepihak saja. Dokter tak hanya memberikan instruksi, tapi alangkah baiknya menampung dan memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi pasien.

* Punya waktu cukup
Agar dapat memberikan informasi yang lengkap dan bisa mendengarkan keluhan pasiennya, tentunya dokter butuh waktu yang cukup. Memang persoalan waktu adalah sesuatu yang relatif. Artinya, ada yang merasa perlu punya waktu panjang, tapi ada juga yang merasa cukup beberapa menit saja untuk melayani pasien. Pilihan terpulang kembali pada kebutuhan si ibu hamil.

RENCANA PERSALINAN
Selain mempertimbangkan dan memilih dokter yang ideal, hal penting lainnya adalah memilih tempat bersalin. Ada berbagai alternatif, apakah mau melahirkan di rumah bersalin, rumah sakit bersalin, rumah sakit ibu dan anak, atau rumah sakit umum. Berikut beberapa faktor yang patut dipertimbangkan:

* Fasilitas
Perhatikan fasilitas yang disediakan tempat bersalin tersebut, apakah tergolong lengkap atau tidak. Jangan lupa, ibu melahirkan bukan cuma menjalani proses melahirkan lalu selesai begitu saja. Namun, adakalanya terjadi komplikasi atau kendala lain, seperti perdarahan berat dan lain sebagainya. Kondisi seperti ini tentu saja membutuhkan tempat bersalin yang menyediakan sarana dan prasarana yang memadai seperti ruang kamar operasi untuk melakukan operasi maupun ruang ICU (Intensive Care Unit). Belum lagi kalau ternyata si bayi yang juga memerlukan perwatan yang lebih intensif seperti di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Hal ini perlu menjadi bahan pertimbangan karena di sini waktu sangat berati. Bayangkan, dalam kondisi kritis, ibu melahirkan dan bayinya harus dirujuk ke rumah sakit lain. Keadaan akan menjadi berbeda kalau di sana tersedia sarana yang lengkap hingga dapat segera mendapat pertolongan.

* Pelayanan
Penting juga adalah pelayanan para petugas kesehatan, baik itu perawat, bidan maupun dokter. Suasana pelayanan yang ramah dan menyenangkan secara psikologis pastilah membuat ibu merasa tenang, nyaman dan aman.
Pertimbangan pemilihan tempat bersalin ini disesuaikan dengan kondisi kehamilan si ibu apakah memunyai risiko tidak, sesuai dengan hasil pemeriksaan dokternya.

PLUS MINUS BIDAN DAN DOKTER
Selain dokter spesialis kebidanan dan kandungan, tenaga kesehatan lain yang juga dapat memeriksa kehamilan adalah:

* Bidan
Bidan bertugas memeriksa kehamilan ibu hamil sampai membantu proses melahirkan. Namun, jika bidan menemukan ada kelainan, semisal terjadinya gangguan pada kehamilan ibu tentu akan dirujuk pada dokter kandungan dan kebidanan untuk diperiksa dan ditangani lebih lanjut.

* Dokter Umum
Di pelosok/daerah terpencil dimana tak terdapat bidan, apalagi dokter kandungan dan kebidanan, dokter umum dapat saja melakukan pemeriksaan kehamilan. Namun, di perkotaan yang sarananya banyak, pelayanan haruslah sesuai dengan bidang keahliannya.

Hilman Hilmansyah. Foto: Ferdi/nakita

Konsultan Ahli:
Dr. Otamar Samsudin, Sp.OG.,
dari RS Metropolitan Medical Centre, Jakarta, RS Gandaria dan
Klinik Infertility Sam Marie
(Nakita)

 

WAITING FOR MY BABY Oktober 24, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yossabachtiar @ 8:27 am

Pada saat blog ini ditulis, aku sudah merasa lebih baik dari beberapa hari kemarin.

Tanggal 20 Oktober 2008, rencananya aku sama suami akan cek kandunganku yang baru 2 bulan ke RS H******, sebetulnya pemeriksaan reguler dilakukan pada tanggal 27 Oktober nanti, tetapi karena pada hari itu aku harus mengikuti Diklat di Bogor selama 2 minggu (pake acara nginep dan olahraga segala lagi) aku harus periksa kondisi aku, kuat ga? perlu diberi tambahan suplemen/multivitamin ga? orang-orang kantor sih nyaranin supaya aku cancel aja dari diklat, khawatir ada apa-apa sama my baby, tetapi karena baru seminggu kemarin aku tugas kantor ke Bali selama 3 hari, naik pesawat sekaligus jalan-jalan di sana tanpa ada masalah, aku pede aja untuk ikut, lagian aku pikir diklat ini penting banget buat menambah wawasan aku tentang penelitian dan pengolahan data. Maklum kerja di lembaga penelitian kalo ga tau soal ilmu penelitian kayaknya kopong banget deh.

Heran pas hamil ini, aku dikasih banyak berkah yang biasanya ga didapat sama ibu-ibu hamil yang lain. Pertama, aku ga muntah/ morning sickness, aku juga ga ngidam, trus energi untuk bekerja ga kendor. Sebelum hamil, aku biasa pulang magrib (padahal jam pulang kantor adalah jam 4 sore), ketika hamilpun aku masih sanggup pulang jam segitu, apalagi kalo suami ga jemput wah bisa bablas tuh jam kerja. Lagi-lagi kalo ga diingetin sama ibu-ibu di kantor, aku bisa lupa waktu.

Sampai akhirnya tanggal 20 Oktober itu tepatnya pukul 09.30 pagi, setelah nunggu dokter selama 3 jam, aku di USG…Ga usahlah aku beberkan semua diagnosanya ketika ngelihat layar (bikin sedih hiks) yang trus aku ingat, when he said “Possibility… Blighted Ovum”

Blighted ovum?

Blighted ovum?

Aku ikut melihat penampakan rahimku di layar, seperti ada black hole tapi ga ada isi hanya pendaran putih yang menurut dokter itu hanya kantong janinnya saja. Suamiku ikut diam, apa dia shock aku ga tau, tapi tiba-tiba aku ngerasa janin dalam tubuhku ini direnggut dengan kata-kata dokter bahwa janinnya ga ada, kemungkinan hamil anggur-lah, keguguran di dalam kandungan, bla-bla. Apalagi ketika dokter bilang kalo seminggu lagi ga ada terpaksa harus dikuret, tiba-tiba aja dadaku pengen meledak, pengen nangis saat itu. Aku tahu tiap dokter pasti dilema dalam menginformasikan ini, sayangnya dokterku itu kayaknya pendiem, jadi dia ga bisa terlalu berbasa-basi dalam menghadapi ibu hamil yang mulai stress kayak aku ini.

Aku bingung, yang aku tahu selama hamil ini, aku ga mengeluh apa-apa, aku buka-buka internet (thx buat para mom yang rajin mem-post data soal blighted ovum di blog2nya), aku ga ngerasa pernah mengalami flek/ pendarahan, biasa aja, paling kadang aku suka males makanan rumah dan doyan ngemil, atau selama beberapa hari ini aku ga minum susu hamil, karena suamiku salah beli susu harusnya Anmum materna malah Anmum untuk bayi:P. Yang pasti batinku ga terima kalo aku mengalami BO.

Alhasil diklat batal, aku mengundurkan diri dan seharian aku menangis di kantor. Apalagi baru beberapa hari kemarin bosku keguguran, rasanya ngenes banget. Untungnya temen-temen di kantor support aku banget, kadang cerewet sih tapi perhatian. So di kantor aku ga perlu nangis berlama-lama, tapi tiba-tiba energi kerjaku tersedot begitu aja, aku cuman bisa bengong di depan komputer, ga bisa ngapa-ngapain.

Layaknya orang yang sedang mencari hikmah dalam kesulitan, aku juga melakukannya. Aku berfikir bahwa bayi ini adalah titipan Allah SWT, Dia mengirim bayi ini karena ngeliat aku dan suami dianggap sanggup menjadi orangtua yang baik, yang mampu menjaga dan membimbingnya. Mungkin di tengah jalan Allah ngeliat kalo kita berdua belum dianggap layak, dan bayi itu diambil sementara sampai kita dinyatakan siap. Karena itu, aku sempet ribut kecil sama suamiku, aku berharap dia mengevaluasi diri barengan sama aku, misalnya dalam hal beribadah, ketaatan dan ketakwaannya kepada Yang Di Atas harus ditingkatkan lagi. Tapi perubahan yang aku inginkan tampak tidak terjadi, dia juga tampak tenang dan tidak terpukul. Melihatnya aku jadi gemes dan ngomel2 terus.

Tapi ternyata suamiku itu diem-diem concern dengan kondisiku, setelah diagnosa itu dia rajin buka-buka info soal BO di internet, makanya dia pede banget dan bilang kalo kemungkinan besar aku masih hamil itu tetap terbuka lebar, Toh, ada juga kasus mirip-mirip aku, setelah minggu ke 10 dan 12 janinnya baru kelihatan.

Tapi didorong oleh keguguran yang baru aja dialami bosku, aku ga bisa tenang. Aku harus nyari second opinion, siapa tahu diagnosa dokter itu salah. Berbekal rekomendasi dari bosku yang lain, tanggal 22 Oktober aku pergi ke RSIA B****, tapi karena dokter yang aku tuju itu prakteknya sore, selama menunggu, aku dan suami coba-coba peruntungan ke RS C****, tapi walhasil 5 jam menunggu dari jam 10 sampai jam 3, aku ga bisa mendapatkan informasi apa-apa, USG ga bisa, diagnosa juga ga bisa.

Magrib aku kembali ke RSIS B****, ternyata ngantrinya lama bo, datang jam 6 baru ketemu dokter jam 9 lebih. Wajar sih secara dokternya dah senior, dah Prof., pasiennya banyak, dan kalo baca testimoni di internet banyak kasus BO yang akhirnya tetep bisa hamil dan melahirkan dengan bantuan dokter tersebut. Aku tahu yang namanya anak itu dari Allah, aku anggap aku sedang ikhtiar ke dokter yang secara referensinya dah diakui orang banyak.

I WANT MY BABY BACK

Ya begitulah, aku di USG tapi ga diperut, tapi melalui vagina. Prosentasi keakuratannya jauh lebih besar dibanding USG di perut. Dokternya sabar juga ngelayanin aku, dia ngejelasin macam-macam, tapi yang pasti kata-kata yang aku ingat :Janinnya ada dalam rahim ko Bu. Aduuuh senangnya hatiku, suamiku yang biasanya pendiem juga jadi cerewet banget nanya ini nanya itu sama dokter. Untung Dokternya sabar, tapi walaupun ada janin, bukan berarti lolos ujian begitu aja. Dokter bilang usia janinnya tidak sesuai dengan yang seharusnya, perhitungan dasarnya; aku sudah 8 minggu 6 hari, dihitung by USG kandunganku masih 7 minggu 1 hari dan dikhawatirkan janin tidak berkembang karena belum ditemukan detak jantung. Kemungkinan kedua, janinku masih 3 minggu. Untuk teori kedua aku ga begitu yakin karena sejak September pertengahan aku dah ga dapet haid lagi. Tapi yang penting, my baby is still there and still alive. Walaupun ada kemungkinan janin tidak berkembang, tiba-tiba aja aku dapet keyakinan bahwa jika aku berdoa, makan obat teratur, makan bergizi, istirahat cukup pasti bakal jadi, Insyaalloh.

ada janinnya...

ada janinnya...

Besoknya, aku kembali bekerja seperti biasa. Aku tidak sabar menunggu 2 minggu ke depan, untuk diperiksa lagi, apakah aku masih hamil atau tidak. Tapi aku yakin, bayiku masih ada di sini, di perutku ini. Doain aku ya.